Press Release
“Diskusi Pengembangan Software Open Source untuk Perpustakaan: Tips dan Model Bisnisnya”
Beberapa tahun yang lalu, sekitar 9-10 tahun yang lalu, ketika perpustakaan berbicara masalah perangkat lunak pendukung sistem informasi perpustakaan pasti yang ada dipikiran adalah investasi yang mahal dan perlu pertimbangan beribu kali untuk mewujudkannya. Namun seiring berjalannya waktu, juga seiring dengan perkembangan perangkat lunak open source yang di awali dengan munculnya sistem operasi linux, orang-orang dalam dunia TI seakan berlomba-lomba dalam mengembangkan berbagai aplikasi open source. Aplikasi yang memungkinkan setiap orang mengembangkan sendiri perangkat lunaknya, bahkan bertukar dan saling melengkapi ide-ide pemrograman. Bahkan di Indonesiapun tak kalah semaraknya, bahkan pemerintah mencanangan adanya Indonesia Go Open Source. Semangat open source seperti angin segar yang setiap orang menyambutnya, di kala selama berpuluh tahun perkembangan perangkat lunak ‘dikuasai’ oleh Microsoft dengan windows dan aplikasi berbayar lainnya. Open Source benar-benar membuat orang menjadi yakin bahwa mereka mampu memiliki perangkat lunak yang tidak mahal, mudah dikembangkan, dan yang terpenting tidak melanggar hak cipta.
Dunia perpustakan, terutama otomasi perpustakaan yang selama ini lebih banyak mengenal CDS-ISIS sebagai satu perangkat yang gratis dan mudah di dapat, juga terkena imbas perkembangan aplikasi atau perangkat lunak berbasis open source ini. Bahkan apabila dulu kita lebih mengenal perangkat lunak atau aplikasi perpustakaan yang berbayar dan tidak open source seperti Dynix, VTLS, TinIib, InMagic dan sebagainya, sekarang perpustakaan mempunyai banyak sekali pilihan aplikasi. Bahkan aplikasi ini tidak saja open source, tapi juga gratis alias kita tidak perlu membayar untuk mendapatkannya. Aplikasi seperti PhpMyLibrary, Igloo, OpenBiblio, Perpustakaan Light, dan Senayan adalah beberapa aplikasi open source sekaligus gratis yang dapat dimanfaatkan oleh perpustakaan dalam menerapkan sistem otomasi perpustakaannya.
Forum Pustakawan UGM merasa bahwa masyarakat dan para pustakawan perlu tahu akan kemudahan-kemudahan yang sekarang ini ada, terkait dengan otomasi perpustakaan atau implementasi sistem informasi perpustakaan. Melalui sebuah forum diskusi, maka Forum Pustakawan UGM mencoba menghadirkan salah satu pengembang aplikasi perpustakaan yang berbasis open source yakni Hendro Wicaksono, S.S., dan Arie Nugraha, S.S.. Keduanya adalah lulusan dari Jurusan Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia yang saat ini masing-masing bekerja sebagai pustakawan di Depdiknas dan Dosen di Jurusan Ilmu Perpustakaan UI. Program aplikasi Senayan adalah salah satu yang sekarang sedang digarap keduanya melalui Senayan Developer Community. Diskusi dengan tema “Pengembangan Software Open Source untuk Perpustakaan: Tips dan Model Bisnisnya” ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 18 April 2009 di Ruang Seminar Gedung Unit 3 Lantai 1 Perpustakaan UGM, pukul 08.00 – 12.00 WIB, bersifat gratis dan terbuka untuk umum. Informasi tentang kegiatan ini dapat dilihat pada website Forum pustakawan (http://pustakawanugm.wordpress.com), sedangkan kegiatan senayan developer community dapat dilihat di website SDC (http://senayan.diknas.go.id).
Pengurus Forum Pustakawan UGM
Arif Surachman
pustakawanugm@gmail.com